
Dihadiri Ketua Yayasan Sabilillah Lamongan, Tasmi’ MI Unggulan Sabilillah Jadi Ruang Syukur, Apresiasi, dan Family Bonding antara Anak dan Orang Tua
Lamongan, 25 September 2026 – Suasana berbeda terasa di MI Unggulan Sabilillah Lamongan (MIUS) pada Jumat, 25 September 2026. Bukan sekadar kegiatan pembelajaran di dalam kelas, madrasah menghadirkan sebuah momen yang mempertemukan hafalan Al-Qur’an, keberanian, apresiasi, serta dukungan keluarga dalam satu kegiatan bertajuk Tasmi’ Al-Qur’an.
Tasmi’ menjadi salah satu kegiatan penting dalam pembinaan tahfidz di MI Unggulan Sabilillah Lamongan. Dalam kegiatan ini, peserta didik menyetorkan hafalan Al-Qur’an yang telah ditentukan, baik berupa hafalan harian maupun juz yang telah diselesaikan atau dikhatamkan, di hadapan para penyimak dan penguji.
Yang membuat kegiatan kali ini semakin istimewa, proses tasmi’ tidak hanya disaksikan oleh orang-orang yang hadir secara langsung di lokasi. Seluruh rangkaian kegiatan juga disiarkan secara live streaming melalui YouTube MIUS Lamongan, sehingga keluarga dan masyarakat yang tidak dapat hadir tetap dapat menyaksikan perjuangan para siswa dalam menyetorkan hafalan mereka.
Kegiatan tersebut juga mendapat perhatian langsung dari Ketua Yayasan Sabilillah Lamongan, H. Ongki Wijaya Ismail Putra, S.T. Kehadiran beliau menjadi bentuk dukungan sekaligus apresiasi terhadap upaya madrasah dalam membangun budaya Qur’ani di lingkungan MI Unggulan Sabilillah Lamongan.
Ketika Hafalan Al-Qur’an Menjadi Sebuah Perjalanan yang Disaksikan Bersama
Tasmi’ bukan sekadar kegiatan meminta seorang siswa membaca hafalan di depan guru.
Di balik setiap ayat yang dilantunkan, terdapat proses panjang yang telah dilalui siswa. Ada waktu yang digunakan untuk menghafal, mengulang, memperbaiki bacaan, melakukan murojaah, hingga membangun keberanian untuk menyetorkan hafalan di hadapan orang lain.
Karena itu, tasmi’ menjadi salah satu bentuk evaluasi sekaligus apresiasi terhadap proses tersebut.
Dalam pelaksanaannya, siswa diberikan hafalan yang telah ditentukan untuk disetorkan. Hafalan tersebut dapat berupa hafalan harian yang telah menjadi target pembelajaran maupun hafalan dalam satu juz yang telah berhasil diselesaikan.
Bagi peserta, berada di depan banyak orang tentu memberikan pengalaman tersendiri. Mereka tidak hanya dituntut mampu mengingat ayat, tetapi juga menjaga konsentrasi, ketenangan, kelancaran bacaan, serta ketepatan dalam melafalkan ayat-ayat Al-Qur’an.
Di sinilah nilai penting tasmi’ terlihat.
Kegiatan ini mengajarkan kepada siswa bahwa hafalan tidak berhenti ketika sebuah ayat berhasil diingat. Hafalan membutuhkan murojaah, kedisiplinan, konsistensi, dan komitmen untuk terus menjaganya.
Tiga Siswa, Tiga Perjalanan Hafalan yang Berbeda
Pada kegiatan Tasmi’ MI Unggulan Sabilillah Lamongan kali ini, terdapat tiga peserta didik yang mendapatkan kesempatan untuk menunjukkan hafalan terbaik mereka.
Ketiganya berasal dari jenjang kelas yang berbeda dan menyetorkan hafalan dengan capaian juz yang berbeda pula.
Mereka adalah:
1. Nafisa Al Malika Anwar – Kelas 1C
Tasmi’ Juz 30
Nafisa Al Malika Anwar dari kelas 1C mengikuti tasmi’ dengan hafalan Juz 30.
Bagi siswa di jenjang awal, kemampuan menyetorkan hafalan di hadapan orang lain menjadi pengalaman penting dalam membangun keberanian dan rasa percaya diri.
Juz 30 sendiri memiliki banyak surat yang dekat dengan aktivitas pembelajaran Al-Qur’an anak-anak. Namun, kemampuan menghafal bukan hanya tentang seberapa banyak surat yang dapat diingat. Ketepatan bacaan, kelancaran, dan kemampuan mempertahankan hafalan menjadi bagian penting dalam proses tasmi’.
Nafisa menjadi salah satu gambaran bahwa pembiasaan Al-Qur’an dapat dimulai sejak usia dini melalui proses yang bertahap dan konsisten.
2. Ayatus Tsaniya Az-Zaida – Kelas 5 Excellent
Tasmi’ Juz 1
Peserta berikutnya adalah Ayatus Tsaniya Az-Zaida, siswa kelas 5 Excellent, yang mengikuti tasmi’ dengan hafalan Juz 1.
Capaian ini menunjukkan proses pembinaan hafalan yang terus berkembang seiring dengan jenjang pendidikan siswa. Semakin bertambah hafalan, semakin besar pula tanggung jawab untuk menjaganya.
Tasmi’ menjadi kesempatan bagi Ayatus untuk membuktikan hasil dari proses belajar dan murojaah yang telah dilakukan.
Di hadapan penguji dan para penyimak, hafalan yang selama ini dipelajari tidak hanya menjadi catatan pribadi, tetapi diperdengarkan secara terbuka sebagai bentuk pertanggungjawaban atas proses belajar yang telah dijalani.
3. Tabihasan Abdul Ghani – Kelas 3B
Tasmi’ Juz 2
Sementara itu, Tabihasan Abdul Ghani dari kelas 3B mengikuti tasmi’ dengan hafalan Juz 2.
Berbeda dengan dua peserta lainnya, Tabihasan menunjukkan capaian hafalan pada juz yang lebih lanjut. Kesempatan mengikuti tasmi’ menjadi ruang bagi dirinya untuk menunjukkan kemampuan sekaligus melatih mental dalam mempertahankan hafalan di hadapan publik.
Ketiga peserta tersebut hadir dengan capaian masing-masing.
Tidak ada perjalanan yang benar-benar sama dalam menghafal Al-Qur’an. Ada yang memulai dari surat-surat pendek, ada yang bertahap menuju juz berikutnya, dan ada pula yang terus memperkuat hafalan yang telah dimiliki.
Namun, semuanya memiliki satu tujuan yang sama: menjadikan Al-Qur’an sebagai bagian dari kehidupan.
Disaksikan Banyak Orang, Disiarkan Secara Live Streaming
Salah satu hal yang membuat Tasmi’ MI Unggulan Sabilillah Lamongan kali ini semakin menarik adalah pelaksanaannya yang dapat disaksikan secara luas.
Kegiatan tersebut disiarkan secara live streaming melalui YouTube MIUS Lamongan.
Dengan konsep ini, tasmi’ tidak lagi menjadi kegiatan yang hanya disaksikan oleh siswa, guru, dan orang tua yang hadir di madrasah. Keluarga yang berada di rumah maupun masyarakat yang ingin menyaksikan dapat mengikuti jalannya kegiatan melalui siaran langsung.
Pemanfaatan teknologi dalam kegiatan keagamaan tersebut sekaligus menunjukkan bagaimana teknologi dapat digunakan untuk mendukung pendidikan dan syiar positif.
Al-Qur’an dan teknologi tidak harus ditempatkan sebagai dua hal yang berlawanan.
Sebaliknya, teknologi dapat menjadi media untuk memperluas jangkauan kegiatan positif, termasuk memperkenalkan proses pembinaan Qur’ani kepada masyarakat.
Di satu sisi, siswa belajar menghafal dan menjaga Al-Qur’an. Di sisi lain, madrasah memanfaatkan teknologi digital untuk mendokumentasikan serta menyebarluaskan semangat tersebut.
Ketua Yayasan Hadir dan Berikan Apresiasi
Kegiatan Tasmi’ kali ini juga semakin istimewa dengan kehadiran langsung H. Ongki Wijaya Ismail Putra, S.T., selaku Ketua Yayasan Sabilillah Lamongan.
Kehadiran beliau menjadi bentuk perhatian terhadap program pembinaan Al-Qur’an yang dikembangkan di MI Unggulan Sabilillah Lamongan.
Beliau memberikan apresiasi terhadap pelaksanaan tasmi’ dan perjuangan para peserta didik yang telah mempersiapkan hafalan mereka.
Menurut beliau, kegiatan seperti ini memiliki nilai penting karena menjadi salah satu bekal bagi anak-anak untuk terus dekat dengan Al-Qur’an.
Al-Qur’an diharapkan tidak hanya menjadi hafalan yang disimpan dalam ingatan, tetapi menjadi sesuatu yang terus dibaca, diulang, dipelajari, dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.
Beliau juga menegaskan komitmen pendidikan di lingkungan Sabilillah bahwa keberhasilan pendidikan tidak hanya dilihat dari kecerdasan akademik.
MI Unggulan Sabilillah Lamongan ingin menghadirkan pendidikan yang mampu mengembangkan berbagai sisi potensi peserta didik.
Cerdas secara akademik, sekaligus unggul dalam kemampuan Qur’ani.
Semangat tersebut menjadi bagian penting dari perjalanan pendidikan MIUS.
Bukan Hanya Mencetak Anak Cerdas, tetapi Juga Generasi Qur’ani
Perkembangan dunia pendidikan saat ini membuat sekolah dituntut untuk mampu mempersiapkan anak menghadapi masa depan.
Kemampuan akademik, teknologi, komunikasi, kreativitas, dan berbagai keterampilan lainnya menjadi bekal penting bagi generasi muda.
Namun, di tengah perkembangan tersebut, pendidikan karakter dan nilai keagamaan tetap memiliki posisi yang sangat penting.
Karena itu, MI Unggulan Sabilillah Lamongan berupaya membangun keseimbangan antara keduanya.
Siswa diberikan kesempatan untuk berkembang dalam bidang akademik dan teknologi, sekaligus mendapatkan pembinaan keagamaan melalui berbagai program Al-Qur’an.
Tasmi’ menjadi salah satu bentuk nyata dari komitmen tersebut.
Melalui kegiatan ini, siswa belajar tentang kedisiplinan, tanggung jawab, keberanian, konsistensi, kesabaran, dan kecintaan terhadap Al-Qur’an.
Sebuah hafalan tidak dapat dipertahankan hanya dengan mengandalkan ingatan. Ia membutuhkan kebiasaan untuk terus membaca dan mengulang.
Karena itu, tasmi’ bukanlah garis akhir.
Justru, tasmi’ dapat menjadi pengingat bahwa setelah hafalan disetorkan, perjalanan untuk menjaganya masih terus berlangsung.
Tasmi’ Menjadi Momen Family Bonding
Ada sisi lain yang tidak kalah menarik dari kegiatan ini, yaitu keterlibatan orang tua.
Tasmi’ menjadi salah satu momentum yang mempertemukan anak, orang tua, dan madrasah dalam suasana yang berbeda.
Orang tua dapat menyaksikan secara langsung bagaimana putra-putri mereka berdiri dan menyetorkan hafalan yang selama ini dipelajari.
Bagi sebagian orang tua, melihat anak membaca ayat Al-Qur’an di hadapan banyak orang tentu menjadi pengalaman yang membanggakan.
Ada rasa haru ketika mengetahui bahwa ayat-ayat yang dibaca anak di depan publik sebelumnya telah melewati proses latihan yang panjang.
Di sinilah tasmi’ menjadi lebih dari sekadar agenda sekolah.
Kegiatan tersebut menjadi ruang family bonding atau penguatan hubungan antara anak dan orang tua.
Orang tua dapat melihat secara langsung perkembangan hafalan anak, memberikan dukungan moral, sekaligus menjadi bagian dari perjalanan pendidikan Qur’ani mereka.
Dukungan keluarga menjadi sangat penting karena proses menghafal Al-Qur’an tidak hanya berlangsung di madrasah.
Di rumah, orang tua dapat membantu menciptakan kebiasaan murojaah, mengingatkan jadwal hafalan, mendengarkan setoran, dan memberikan apresiasi ketika anak berhasil mencapai target.
Dengan demikian, pendidikan Al-Qur’an tidak berhenti ketika anak meninggalkan lingkungan sekolah.
Ia dapat berlanjut di rumah melalui kebiasaan sederhana yang dilakukan secara konsisten.
Ada Penilaian, Ada Evaluasi, Ada Proses Perbaikan
Tasmi’ juga memiliki sisi evaluatif.
Setiap peserta tidak hanya diminta untuk membaca hafalan, tetapi juga mendapatkan penilaian dari juri atau penguji.
Penilaian menjadi bagian penting untuk melihat sejauh mana kualitas hafalan yang dimiliki oleh peserta.
Aspek yang diperhatikan dalam kegiatan tasmi’ antara lain dapat berkaitan dengan kelancaran hafalan, ketepatan bacaan, tajwid, makharijul huruf, ketelitian, serta kemampuan mempertahankan hafalan.
Dengan adanya penilaian, siswa mendapatkan gambaran mengenai bagian-bagian yang masih perlu diperbaiki.
Hal ini juga menjadi bahan evaluasi bagi madrasah dalam mengembangkan pembinaan tahfidz ke depannya.
Dengan demikian, tasmi’ bukan kegiatan untuk mencari siapa yang paling unggul semata.
Lebih dari itu, tasmi’ menjadi bagian dari proses evaluasi dan peningkatan kualitas hafalan.
Apresiasi Tidak Berhenti pada Sertifikat dan Syahadah
Setelah menyelesaikan tasmi’, ketiga peserta mendapatkan apresiasi atas capaian yang telah diraih.
Mereka tidak hanya memperoleh sertifikat dan syahadah, tetapi juga mendapatkan uang pembinaan yang diberikan langsung oleh H. Ongki Wijaya Ismail Putra, S.T., selaku Ketua Yayasan Sabilillah Lamongan.
Pemberian uang pembinaan tersebut menjadi bentuk apresiasi nyata atas usaha dan kesungguhan para siswa dalam mengikuti proses hafalan.
Apresiasi seperti ini diharapkan dapat menjadi motivasi agar peserta terus menjaga hafalannya dan menjadi inspirasi bagi siswa lainnya.
Bagi siswa lain yang menyaksikan, keberhasilan ketiga peserta tersebut dapat menjadi gambaran bahwa setiap anak memiliki kesempatan untuk berkembang dan mendapatkan apresiasi atas proses yang mereka jalani.
Dari Tiga Anak, Tumbuh Semangat untuk Satu Madrasah
Nafisa Al Malika Anwar.
Ayatus Tsaniya Az-Zaida.
Tabihasan Abdul Ghani.
Tiga nama tersebut menjadi bagian dari cerita Tasmi’ MI Unggulan Sabilillah Lamongan pada 25 September 2026.
Mereka datang dengan hafalan yang berbeda, usia yang berbeda, serta perjalanan belajar yang berbeda.
Namun, mereka memiliki satu kesamaan: keberanian untuk memperdengarkan hafalan Al-Qur’an di hadapan banyak orang.
Perjalanan ketiganya diharapkan tidak berhenti setelah tasmi’ selesai.
Juz yang telah dihafalkan perlu terus dijaga.
Ayat yang telah dipelajari perlu terus dibaca.
Dan nilai-nilai yang terkandung di dalam Al-Qur’an diharapkan dapat terus diwujudkan dalam perilaku sehari-hari.
Menjadikan Al-Qur’an sebagai Bekal Kehidupan
Tasmi’ MI Unggulan Sabilillah Lamongan pada akhirnya bukan hanya tentang tiga siswa yang berhasil menyetorkan hafalan.
Lebih luas dari itu, kegiatan ini merupakan gambaran tentang bagaimana sebuah madrasah berusaha membangun budaya pendidikan yang menempatkan Al-Qur’an sebagai bagian dari perjalanan peserta didik.
Di tengah kesibukan belajar, perkembangan teknologi, aktivitas sekolah, dan berbagai tantangan generasi masa kini, anak-anak tetap diberikan ruang untuk dekat dengan Al-Qur’an.
Pesan yang ingin dibangun pun sederhana namun mendalam: anak yang cerdas adalah sebuah kebanggaan, tetapi anak yang cerdas sekaligus dekat dengan Al-Qur’an adalah harapan.
Karena itu, kegiatan tasmi’ menjadi salah satu ikhtiar MI Unggulan Sabilillah Lamongan untuk menjaga keseimbangan tersebut.
Sebagaimana apresiasi yang disampaikan Ketua Yayasan Sabilillah Lamongan, kegiatan seperti ini diharapkan menjadi bekal bagi anak-anak agar terus dekat dengan Al-Qur’an.
Bukan hanya menghafalnya.
Tetapi juga mencintainya.
Menjaganya.
Membacanya.
Dan, yang paling utama, berusaha mengamalkan nilai-nilainya dalam kehidupan.
Tasmi’ MIUS: Ketika Hafalan Menjadi Cerita, Keluarga Menjadi Saksi, dan Al-Qur’an Menjadi Bekal
Pelaksanaan Tasmi’ pada 25 September 2026 menjadi salah satu momen berharga dalam perjalanan pendidikan MI Unggulan Sabilillah Lamongan.
Dengan disaksikan keluarga, guru, juri, warga madrasah, serta masyarakat melalui live streaming YouTube MIUS Lamongan, tiga peserta telah menunjukkan keberanian dan kesungguhan mereka.
Nafisa Al Malika Anwar – Kelas 1C – Juz 30
Ayatus Tsaniya Az-Zaida – Kelas 5 Excellent – Juz 1
Tabihasan Abdul Ghani – Kelas 3B – Juz 2
Mereka bukan hanya sedang menyetorkan hafalan.
Mereka sedang belajar tentang keberanian.
Tentang konsistensi.
Tentang tanggung jawab.
Dan tentang bagaimana menjaga sesuatu yang telah diperjuangkan dengan penuh kesungguhan.
Semoga capaian ketiga peserta menjadi awal dari perjalanan hafalan yang semakin panjang dan semakin kuat.
Dan semoga Tasmi’ MI Unggulan Sabilillah Lamongan terus menjadi ruang yang mempertemukan Al-Qur’an, anak-anak, guru, dan keluarga dalam satu tujuan: membangun generasi yang cerdas secara akademik, kuat karakternya, dan unggul dalam nilai-nilai Qur’ani.
MI Unggulan Sabilillah Lamongan — Unggul, Berbudaya, Berakhlak Karimah.



