
Study Tiru menjadi ruang berbagi inovasi, penguatan karakter, digitalisasi, Excellent Class, dan pengembangan pembelajaran di MI Unggulan Sabilillah Lamongan.
Lamongan, 30 September 2026 – Sebuah madrasah tidak dibangun hanya dengan gedung dan fasilitas yang lengkap. Di baliknya terdapat visi, budaya kerja, inovasi pembelajaran, penguatan karakter, serta komitmen seluruh warga madrasah untuk terus berkembang.
Semangat itulah yang terasa dalam kegiatan Study Tiru MWC LP Ma’arif NU Krian ke MI Unggulan Sabilillah Lamongan (MIUS) pada Rabu, 30 September 2026.
Kunjungan yang diikuti oleh 63 peserta tersebut menjadi ruang bertemunya dua lembaga pendidikan untuk saling melihat, mempelajari, dan berbagi pengalaman mengenai praktik baik pengelolaan madrasah.
Bagi MIUS, kedatangan rombongan bukan sekadar agenda menerima tamu. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi kesempatan untuk memperkenalkan berbagai proses yang selama ini dikembangkan di lingkungan MI Unggulan Sabilillah Lamongan—mulai dari pembelajaran, penguatan karakter, program keislaman, digitalisasi, Excellent Class, hingga berbagai layanan pendidikan yang mendukung perkembangan peserta didik.
Sementara bagi rombongan MWC LP Ma’arif NU Krian, kegiatan ini menjadi ruang untuk melihat secara langsung bagaimana berbagai gagasan pendidikan diterjemahkan menjadi program dan aktivitas nyata di lingkungan madrasah.
Dari Visi, Kemudian Diterjemahkan Menjadi Gerakan
Setiap lembaga pendidikan memiliki visi.
Namun, tantangan terbesar bukanlah sekadar menyusun visi, melainkan bagaimana visi tersebut dapat diwujudkan menjadi budaya dan aktivitas sehari-hari.
Di MIUS, berbagai program dikembangkan sebagai bagian dari upaya menerjemahkan visi pendidikan tersebut ke dalam pengalaman belajar siswa.
Karena itu, Study Tiru menjadi momentum yang tepat untuk memperlihatkan bahwa inovasi pendidikan tidak selalu hadir dalam bentuk satu program besar.
Inovasi dapat terlihat dari cara guru mengelola pembelajaran.
Dapat terlihat dari bagaimana siswa dibiasakan berkarakter.
Dapat terlihat dari bagaimana teknologi dimanfaatkan.
Dapat terlihat dari bagaimana program unggulan dirancang.
Dan dapat terlihat dari bagaimana seluruh warga madrasah bekerja dalam satu sistem.
Inilah yang menjadi salah satu pesan utama dalam kegiatan Study Tiru kali ini.
Visi tidak cukup hanya tertulis di dokumen. Visi harus hadir dalam aksi.
MIUS Membuka Ruang Berbagi Praktik Baik
Kunjungan MWC LP Ma’arif NU Krian menjadi ruang dialog mengenai berbagai pengalaman yang berkembang di MI Unggulan Sabilillah Lamongan.
Dalam kegiatan ini, peserta mendapatkan kesempatan untuk melihat lebih dekat berbagai bagian yang menjadi ekosistem pendidikan MIUS.
Mulai dari kegiatan belajar mengajar, program keislaman, tahfidz dan BTA, pengembangan kelas, hingga berbagai layanan pendukung madrasah.
Setiap bagian memiliki karakteristik dan tantangannya masing-masing.
Namun semuanya memiliki satu tujuan, yaitu menciptakan lingkungan pendidikan yang mampu mendukung perkembangan siswa secara menyeluruh.
Dengan demikian, Study Tiru tidak ditempatkan sebagai kegiatan untuk sekadar melihat fasilitas.
Yang lebih penting adalah melihat proses di balik fasilitas tersebut.
Bagaimana program dijalankan.
Bagaimana guru berperan.
Bagaimana siswa dilibatkan.
Bagaimana teknologi digunakan.
Dan bagaimana budaya sekolah dibangun secara konsisten.
Excellent Class: Memberikan Ruang bagi Potensi Siswa
Salah satu hal yang menjadi bagian dari pengembangan pendidikan di MIUS adalah keberadaan Excellent Class.
Program tersebut menjadi salah satu upaya madrasah dalam memberikan ruang pengembangan potensi peserta didik melalui pendekatan pembelajaran yang disesuaikan dengan kebutuhan dan karakter siswa.
Di dalam pendidikan modern, setiap anak memiliki potensi yang berbeda.
Ada anak yang memiliki kekuatan dalam bidang akademik.
Ada yang memiliki kemampuan bahasa.
Ada yang menonjol dalam bidang seni.
Ada yang memiliki kemampuan olahraga.
Ada pula yang memiliki minat besar terhadap teknologi dan berbagai bidang lainnya.
Karena itu, pengembangan kelas unggulan menjadi salah satu upaya untuk menciptakan pengalaman belajar yang lebih terarah.
Melalui Study Tiru, konsep tersebut menjadi salah satu bagian yang dapat didiskusikan dan dipelajari bersama.
Bukan untuk sekadar meniru bentuk programnya, tetapi memahami gagasan, proses, dan tujuan pendidikan yang berada di baliknya.
Digitalisasi: Teknologi untuk Memperkuat Pendidikan
Perubahan zaman juga menjadi bagian penting dalam pembahasan pendidikan.
Digitalisasi telah mengubah cara manusia belajar, berkomunikasi, dan memperoleh informasi.
Madrasah pun dituntut untuk mampu beradaptasi tanpa kehilangan karakter dan nilai-nilai pendidikan yang menjadi fondasinya.
MIUS terus mengembangkan pemanfaatan teknologi sebagai bagian dari proses pendidikan dan pengelolaan madrasah.
Digitalisasi tidak hanya dipandang sebagai penggunaan perangkat atau aplikasi.
Lebih jauh, teknologi perlu ditempatkan sebagai alat untuk membantu guru, siswa, orang tua, dan madrasah bekerja dengan lebih efektif.
Dalam konteks pembelajaran, teknologi dapat membuka akses terhadap berbagai sumber belajar.
Sementara dalam pengelolaan madrasah, digitalisasi dapat membantu proses administrasi, komunikasi, dokumentasi, hingga penyampaian informasi kepada masyarakat.
Melalui Study Tiru ini, pengalaman tersebut menjadi bagian dari ruang berbagi antara MIUS dan MWC LP Ma’arif NU Krian.
Karakter Tetap Menjadi Fondasi
Di tengah perkembangan teknologi, pendidikan karakter tetap menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan.
Kemampuan akademik dan teknologi penting, tetapi pendidikan juga perlu membentuk pribadi yang memiliki sikap, tanggung jawab, kedisiplinan, kepedulian, dan akhlak yang baik.
MIUS menempatkan penguatan karakter sebagai bagian dari proses pendidikan.
Karakter tidak hanya diajarkan melalui teori.
Karakter dibangun melalui pembiasaan.
Bagaimana siswa bersikap kepada guru.
Bagaimana mereka berinteraksi dengan teman.
Bagaimana mereka menjaga lingkungan.
Bagaimana mereka bertanggung jawab terhadap tugas.
Bagaimana mereka membangun kedisiplinan.
Hingga bagaimana mereka menerapkan nilai-nilai keislaman dalam kehidupan sehari-hari.
Inilah salah satu aspek penting yang membuat pendidikan tidak berhenti pada ruang kelas.
Tahfidz dan BTA: Menguatkan Kedekatan dengan Al-Qur’an
Sebagai madrasah yang membawa nilai-nilai keislaman dalam pendidikan, program Tahfidz dan BTA juga menjadi bagian dari ekosistem pembelajaran MIUS.
Program tersebut menjadi ruang bagi siswa untuk terus berinteraksi dengan Al-Qur’an.
Pembelajaran Al-Qur’an bukan hanya tentang kemampuan membaca dan menghafal.
Lebih dari itu, pembiasaan tersebut diharapkan dapat menumbuhkan kecintaan siswa terhadap Al-Qur’an sekaligus membangun karakter yang selaras dengan nilai-nilai Islam.
Program Tahfidz dan BTA menjadi salah satu contoh bagaimana MIUS berusaha menjaga keseimbangan antara pengembangan kompetensi modern dan penguatan nilai keagamaan.
Dari Ruang Kelas: Melihat Pembelajaran Secara Langsung
Salah satu bagian penting dalam Study Tiru adalah kesempatan untuk melihat proses pembelajaran secara lebih dekat.
Pembelajaran merupakan jantung dari sebuah lembaga pendidikan.
Sebagus apa pun program yang dirancang, keberhasilannya pada akhirnya akan sangat berkaitan dengan bagaimana program tersebut diterapkan dalam proses belajar siswa.
Karena itu, pengembangan kompetensi guru, pengelolaan kelas, komunikasi antara guru dan siswa, serta penggunaan metode pembelajaran menjadi bagian penting dalam membangun kualitas pendidikan.
Melalui kegiatan Study Tiru, peserta dapat melihat bahwa pembelajaran bukanlah proses yang statis.
Guru perlu terus belajar.
Metode perlu berkembang.
Teknologi perlu dimanfaatkan secara tepat.
Dan kebutuhan siswa harus selalu menjadi salah satu pertimbangan dalam merancang pembelajaran.
63 Peserta, Satu Ruang untuk Belajar Bersama
Kehadiran 63 peserta memberikan suasana tersendiri bagi kegiatan Study Tiru.
Rombongan disambut dan diarahkan melalui berbagai bagian kegiatan yang telah dipersiapkan oleh keluarga besar MIUS.
Mulai dari penyambutan, registrasi, pendampingan, kegiatan pembelajaran, program tahfidz dan BTA, hingga berbagai ruang pendukung lainnya.
Banyak unsur madrasah terlibat dalam kegiatan ini.
Tim media, registrasi, penampilan, KBM, tahfidz dan BTA, ramah-tamah, SPMB, perpustakaan, tata usaha, koperasi, keamanan, kebersihan, hingga para wali kelas turut mengambil bagian dalam memastikan kegiatan berjalan dengan baik.
Keterlibatan banyak pihak tersebut memperlihatkan bahwa sebuah kegiatan besar tidak dapat berjalan hanya karena satu orang.
Dibutuhkan koordinasi.
Dibutuhkan komunikasi.
Dan yang paling penting, dibutuhkan kerja sama.
Siswa Menjadi Bagian dari Wajah MIUS
Salah satu hal yang tidak dapat dipisahkan dari kegiatan Study Tiru adalah keterlibatan siswa.
Siswa bukan hanya objek yang menerima pembelajaran.
Mereka juga menjadi bagian dari wajah madrasah.
Penyambutan yang melibatkan siswa, penampilan, aktivitas pembelajaran, hingga interaksi dengan tamu menjadi kesempatan bagi peserta kunjungan untuk melihat bagaimana karakter siswa dibentuk dalam lingkungan MIUS.
Dari cara mereka berkomunikasi hingga keberanian tampil di depan orang lain, semuanya menjadi bagian dari pengalaman pendidikan.
Hal tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa pendidikan karakter dan pengembangan potensi tidak harus menunggu siswa berada di jenjang yang lebih tinggi.
Pembentukan karakter dapat dimulai sejak dini melalui pengalaman sehari-hari.
Belajar Tidak Harus Selalu dari Buku
Study Tiru memberikan satu pelajaran penting: proses belajar tidak hanya terjadi melalui buku dan ruang kelas.
Lembaga pendidikan juga dapat belajar dari pengalaman lembaga lain.
Praktik baik yang telah dilakukan dapat menjadi bahan refleksi.
Program yang berhasil dapat dipelajari.
Tantangan yang pernah dihadapi dapat menjadi pembelajaran.
Dan pengalaman tersebut dapat dikembangkan sesuai dengan kebutuhan masing-masing lembaga.
Karena itu, Study Tiru bukan tentang mencari siapa yang lebih baik.
Melainkan tentang menciptakan ruang agar lembaga pendidikan dapat saling belajar dan berkembang.
MIUS dan MWC LP Ma’arif NU Krian: Berbagi untuk Bertumbuh
Pertemuan antara MIUS dan MWC LP Ma’arif NU Krian menjadi momentum yang mempertemukan dua lingkungan pendidikan dengan pengalaman masing-masing.
MIUS berbagi pengalaman mengenai berbagai program dan inovasi yang dikembangkan.
Sementara rombongan MWC LP Ma’arif NU Krian membawa perspektif dan pengalaman mereka sendiri.
Pertukaran seperti inilah yang membuat kegiatan Study Tiru memiliki nilai lebih.
Sebab, setelah kunjungan selesai, pengetahuan yang diperoleh tidak berhenti di tempat.
Ia dapat menjadi bahan diskusi.
Dapat menjadi inspirasi.
Dapat menjadi evaluasi.
Dan pada akhirnya dapat melahirkan inovasi baru di lembaga masing-masing.
Di Balik Kegiatan yang Lancar, Ada Banyak Tangan yang Bekerja
Kegiatan Study Tiru juga menjadi gambaran mengenai budaya kerja di MIUS.
Sejumlah tim disiapkan untuk memastikan seluruh rangkaian kegiatan dapat berjalan dengan tertib.
Tim Media melibatkan Ustadz Handika, Ustadz Gilang, Ustadz Marzuki, dan Ustadz Zain.
Tim Registrasi melibatkan Ustadz Ika dan Ustadz Sesi.
Tim Penampilan melibatkan Ustadz Ilmi dan Ustadz Egi.
Tim Halaqo Tahfidz dan BTA melibatkan Ustadz Zainul dan Ustadz Mila.
Tim KBM melibatkan Ustadz Robi’ah, Ustadz Alfi, Ustadz Wiwin, Ustadz Kharis, Ustadz Nawang, dan Ustadz Fauziah.
Sementara Tim Ramah-Tamah terdiri dari Ustadz Tutus, Ustadz Roza, dan Ustadz Hamda.
Pada bagian koperasi terdapat Ustadz Fenda.
Pengaturan jalan anak juga dilakukan pada dua titik, yaitu Ustadz Hamda di pintu masuk timur dan Ustadz Diya di pintu masuk sebelah barat.
Untuk Ruang SPMB, terdapat Ustadz Roza dan Ustadz Bela.
Ruang Perpustakaan dikoordinasikan oleh Ustadz Ririn, sedangkan Ruang TU oleh Ustadz Gita.
Seluruh wali kelas turut menjadi Tim Sukses, sementara bagian kebersihan didukung oleh Pak Ladi, Pak Harno, dan Pak Muslik.
Pembagian tersebut menunjukkan bahwa keberhasilan sebuah agenda pendidikan merupakan hasil dari kerja kolektif.
Dari MIUS untuk Pendidikan yang Terus Bergerak
Kegiatan Study Tiru MWC LP Ma’arif NU Krian di MI Unggulan Sabilillah Lamongan menjadi lebih dari sekadar agenda kunjungan.
Ia menjadi ruang untuk memperlihatkan bagaimana sebuah visi diterjemahkan menjadi program.
Bagaimana program diterjemahkan menjadi kebiasaan.
Dan bagaimana kebiasaan dibangun melalui kerja bersama seluruh warga madrasah.
Mulai dari Excellent Class, digitalisasi, pembelajaran, penguatan karakter, Tahfidz, BTA, hingga berbagai layanan pendidikan, semuanya menjadi bagian dari perjalanan MIUS dalam mengembangkan pendidikan.
Namun, perjalanan tersebut tentu belum selesai.
Dunia pendidikan terus berubah.
Kebutuhan siswa terus berkembang.
Teknologi terus bergerak.
Karena itu, madrasah juga perlu terus belajar dan melakukan evaluasi.
Dari Visi Menjadi Aksi
Kunjungan 63 peserta MWC LP Ma’arif NU Krian menjadi momentum bagi MIUS untuk terus membuka ruang kolaborasi dan berbagi.
Sebab, pendidikan akan semakin kuat ketika lembaga-lembaga di dalamnya tidak berjalan sendiri-sendiri.
Ada ruang untuk bertukar pengalaman.
Ada ruang untuk berdiskusi.
Ada ruang untuk mengadopsi hal baik.
Dan ada ruang untuk menciptakan inovasi baru.
Pada akhirnya, Study Tiru bukan tentang menyalin apa yang dilakukan lembaga lain.
Study Tiru adalah tentang melihat, memahami, merefleksikan, kemudian mengembangkan praktik baik sesuai karakter dan kebutuhan masing-masing madrasah.
Dari sanalah visi dapat berubah menjadi aksi.
Dan dari aksi yang dilakukan secara konsisten, perubahan pendidikan dapat terus tumbuh.
MI Unggulan Sabilillah Lamongan
Unggul, Berbudaya, Berakhlakul Karimah.







